Skip to main content

Cerpen "Balada Singkat Mahaiswa Akhir"

Seorang pria ke luar dari kamar apartemennya, langkahnya sedikit lunglai tak henti-hentinya ia menguap, di arlojinya menunjukkan pukul 04.15 pagi, mungkin masih terlalu dini untuk terjaga dari tidur. Ada alasan tersendiri mengapa pria ini terjaga begitu cepat, ia harus sesegera mungkin menyiapkan segala perelngkapan “Tempur” nya karena hari ini merupakan hari yang sangat bersejarah dan penuh ketegangan bagi pria itu, karena hari ini ia akan melaksanakan ujian tutup, salah satu rangkaian ujian skripsi sebelum meraih gelar sarjana humaniora. Di pagi hari itu, ia bergegas menuju ruang ujian, di koridor fakultas ia sempat berpapasan dengan salah satu sahabatnya.
“Ngapain kamu di sini? Bukannya sudah lulus?” tanya pria itu kepada sosok perempuan berambut hitam lurus sebahu.
“Yah urus ijazah,” sahutnya singkat. “Kamu sendiri udah siap ujian tutup?!” tanya perempuan itu
“Yah saya sudah siap,” sahutnya, walaupun wajahnya menunjukkan aura ketegangan.
“Yah okelah sukses dan jangan tegang begitu bro,” perempuan itu kemudian berlalu meninggalkannya, ia menoleh sejenak dan mengedipkan matanya.
“Yah sampai jumpa Nurdahlia ningrat,” sahut pria itu dan berjalan kembali menuju ruang ujian.
Matahari meninggi raut wajah ketegangan pria itu mulai sirna berganti dengan senyuman dan tawa, tepat setelah salat duhur ia resmi dinyatakan lulus ujian tutup, kini hanya persoalan administrasi yang harus diselesaikan sebelum pendaftaran yudisium dan wisuda. Matahari mulai tergelincir ke arah barat, sinarnya menyengat kulit putih mulus pria yang baru saja ujian, ia menepi dan memutuskan berlindung di bawah rindangnya pohon asam yang ditanam di humaniora garden. Matanya menerawang ke langit mencoba mereduksi perasaannya hari ini.

“Bagaimana ujiannya Wildan?” seorang perempuan tiba-tiba mengagetkannya dengan sebuah pertanyaan, perempuan itu bernama Nurnanensi, sahabat Wildan yang dua tahun lalu telah meraih gelar S.Hum nya. Pria itu memalingkan wajahnya memandang senyuman manis Nurnanensi yang postur tinggi badannya hampir sama dengan Wildan.
“Yah sejauh ini baguslah,” sahut Wildan mengumbar senyuman khasnya, senyuman yang dihiasi dua lesung pipit. Lesung pipit yang membuat siapa saja perempuan akan luluh.
“Yah syukurlah setidaknya kamu bisa meraih gelar sarjanamu walaupun mesti kuliah tujuh tahun,” sahut Nurnanensi, ada sedikit nada ejekan, candaan atau mungkin sarkas dari pernyataannya itu.
“Konsekuensi seorang aktivis… ada harga yang harus dibayar atas setiap pilihan, bukan begitu Nurnanensi?” Wildan menimpali Nurnanensi dengan nada yang sama.
“Yah mungkin itulah yang harus kamu bayar atas pilihanmu,” sahut Nurnanensi datar dan memandangi Wildan.

Pria itu bernama Wildan, lengkapnya Muhammad Wildan Rafzanjaningrat Ahmad Yaningrat, banyak yang mengira pria dengan tinggi badan 177 cm ini adalah seorang bangsawan ningrat dari tanah jawa, ada pula yang mengira ia anak blesteran indonesia-korea karena kulitnya putih mulus dan struktur wajahnya mirip artis korea, jang geun suk, padahal ia produk asli tanah duri kabupaten Enrekang.
Sejak kuliah di Makassar College mengambil history and cultural study ia dikenal sebagai aktivis kampus, keterlibatan dalam dunia kelembagaan dimulai dari semester III sampai semester XIII, selama itu ia sudah pernah mencicipi semua jenjang kepengurusan lembaga kemahasiswaan, mulai Wedana HMJ, residen fakultas, hingga jabatan Hoge Vertegenwoordiger Van De Kroon Faculteit (wakil tinggi mahkota fakultas) jabatan seperti anggota majelis permusyawaratan mahasiswa tingkat universitas.
“Wildan, apakah kamu menyesal memilih jalan ini?” tanya Nurnanensi, kini mereka berdua duduk di salah satu sudut humaniora garden, Wildan tidak sesegera menjawab pertanyaan Nurnanensi, ia memikirkan sejenak jawaban apa yang harus diberikan kepada kawannya yang satu ini,
“Yah saya tidak menyesal atas pilihanku untuk menempuh jalur ini,” sahut Wildan mantap, mereka berdua memandang kembali langit yang mulai temaram mereduksi pengalaman 2 tahun lalu.

Hari itu masih segar di ingatan Wildan dua tahun ketika pihak birokrasi dan mahasiswa mengadakan dialog yang di fasilitasi oleh HMJ. “Bagaimana ini ayahanda? Bukankah sudah tugas utama seorang dosen harus hadir dalam setiap rangkaian ujian skripsi, tanpa harus meminta rente dari mahasiswa?” Wildan menghentakkan meja saat dialog akademik berlangsung antara pihak jurusan dan mahasiswa yang dimediasikan oleh himpunan history and cultural study.
Semua peserta terkejut atas tindakan Wildan, tak terkecuali para dosen dan staff jurusan, selama ini dialog akademik hanya sebagai ajang seremonial belaka antara mahasiswa dan pihak jurusan, namun kali ini momen itu dimanfaatkan Wildan untuk menyuarakan suara-suara kecil dari teman-temannya. “Lagian apa lagi ini kami harus membayar sejumlah uang hanya untuk memasukkan tulisan di jurnal?”
Sekali lagi Wildan memukul-mukul meja pertanda darahnya mulai mendidih, sudah menjadi rahasia umum terjadi semacam permintaan rente dari birokrasi kepada setiap mahasiswa akan mengadakan rangkaian ujian skripsi yang terdiri dari ujian proposal, ujian hasil, dan ujian tutup. Setiap rangkaian itu mahasiswa dibebankan membayar fee sesuai yang ditetapkan pihak birokrasi jurusan, sebelum ujian tutup dilaksanakan, mahasiswa kembali dimintai sejumlah uang agar tulisannya dapat dimasukkan dalam jurnal. Untuk yang terakhir ini memang kewajiban mahasiswa sebelum lulus memiliki tulisan yang dimuat dalam jurnal.
“Adinda Wilda Anda sopanlah sedikit, sesuai aturan Dikti mahasiswa harus memiliki tulisan yang dimuat di jurnal, karena itulah pihak birokrasi memungut bea kepada mahasiswa agar tulisannya dapat masuk di jurnal jurusan,” seorang dosen muda menimpali Wildan, hanya pertanyaan yang kedua dari Wildan yang bisa dijawabnya.
“Saya tahu, tapi beberapa dari teman-teman saya tulisannya pernah termuat di dalam jurnal di instansi-instansi riset ilmiah, seperti Djawatan Sejarah dan Purbakala kenapa mesti mereka harus membayar agar tulisannya dimuat dalam jurnal birokrasi…?!”
Wildan kemudian mengambil lima buah jurnal dan memperlihatkan beberapa tulisan yang dimuat dalam jurnal itu, dan menyebutkan satu per satu nama mahasiswa seperti Ferdhiadi, Mujahidin Musa, Muhammad Helmy, Irwan, Syahrul, dan beberapa mahasiswa lainnya yang tulisannya termuat dalam jurnal-jurnal itu. Atas kejadian menghebohkan saat itu Wildan telah menjadi buah bibir baik dari mahasiswa maupun para dosen, konsekuensi dari perbuatan itu membuat studi Wildan terganggu hingga semester XIV.

Wildan menatap kopi yang diseduhnya mulai habis, serasa uapan kopi itu menyadarkan Wildan dalam lamunan kenangan dua tahun lalu.
“Kamu tahu Wildan, dua tahun lalu ketika di dialog akademik, kamu menjadi bahan pembicaraan teman-teman tidak ada yang menyangka kamu senekat itu,” sahut Nurnanensi, Wildan hanya tersenyum mendengar ucapan kawannya itu lalu dialihkannya kembali pandangannya pada gelas strefom yang berisikan endapan kopi yang tak diseduh lagi.
“Yah konsekuensinya kamu tidak bisa maju ujian proposal, ujian hasil dan ujian tutup karena konsistensimu untuk tidak memberikan fee, serta protesmu atas proyek-sisasi jurnal, seandainya kamu ikut arus besar saat itu kamu sudah menjadi lulusan tercepat dengan predikat cumlaude,” sekali lagi sahut Nurnanensi kepada Wildan dan sekali lagi Wildan hanya tersenyum dan mengangguk. Konsistensi Wildan menolak para pemburu rente membuatnya menjadi mahasiswa terakhir di angkatannya yang lulus.

Kini kenangan itu telah berlalu, bagi Wildan apa yang dilakukan dan diperjuangkan setidaknya memberikan hasil untuk juniornya kelak, ia menang dalam advokasi jurnal namun masih kalah dalam praktek-praktek rente.
“Terima kasih Nurnanensi atas dukungannya selama ini, saya bangga menjadi bagian dari keluarga ini, setidaknya angkatan kita masih mendukung satu sama lain,”
“Yah sama-sama, tapi berita ini benar yah… Kamu tidak bayar fee ke birokrasi?”
“Yah benar, saya tidak bayar fee ke birokrasi, entahlah apa gerangan merasuki mereka tetapi saya berdoa semoga praktek berburu rente ini hilang,” sahut Wildan sembari mengedipkan matanya kepada Nurnanensi, kini mereka beranjak dari humaniora garden berjalan menuju ruang jurusan untuk mengambil nota sidang yang akan disetornya ke fakultas untuk keperluan administrasi yudisium.

Comments