Seorang pria ke luar dari kamar apartemennya, langkahnya sedikit lunglai tak henti-hentinya ia menguap, di arlojinya menunjukkan pukul 04.15 pagi, mungkin masih terlalu dini untuk terjaga dari tidur. Ada alasan tersendiri mengapa pria ini terjaga begitu cepat, ia harus sesegera mungkin menyiapkan segala perelngkapan “Tempur” nya karena hari ini merupakan hari yang sangat bersejarah dan penuh ketegangan bagi pria itu, karena hari ini ia akan melaksanakan ujian tutup, salah satu rangkaian ujian skripsi sebelum meraih gelar sarjana humaniora. Di pagi hari itu, ia bergegas menuju ruang ujian, di koridor fakultas ia sempat berpapasan dengan salah satu sahabatnya. “Ngapain kamu di sini? Bukannya sudah lulus?” tanya pria itu kepada sosok perempuan berambut hitam lurus sebahu. “Yah urus ijazah,” sahutnya singkat. “Kamu sendiri udah siap ujian tutup?!” tanya perempuan itu “Yah saya sudah siap,” sahutnya, walaupun wajahnya menunjukkan aura ketegangan. “Yah okelah sukses dan jangan tegang begitu...
Novel “Ayah” berkisah tentang cinta sejati dan perjuangan seorang ayah bernama Sabari kepada Marlena dan Zorro anaknya. Cinta sejati yang dibawanya hingga tutup usia. Perjuangan seorang ayah yang dapat menginspirasi kaum ayah saat ini. Dengan cinta dan pengorbanannya memberikan kasih sayang kepada orang-orang tercinta dengan penuh ketulusan. Cinta tanpa Syarat itulah yang dicoba diusung dalam novel ini. Peran dan kasih sayang yang diberikan seorang ayah ternyata memberikan pengaruh yang luar biasa pada diri sang anak. Sabari yang sangat senang dengan kehadiran zorro, semakin bersemangat dan berusaha memberikan segala yang terbaik untuk anaknya. Menyandang gelar “Ayah” adalah anugerah luar biasa yang disyukuri Sabari. Tidak ada kesenangan dunia yang bisa mengalahkan kebersamaan Sabari dan Zorro. Di tengah kemiskinan dan kesederhanaan hidupnya, Sabari selalu memberikan kebahagiaan untuk Zorro, termasuk kebiasaannya bercerita dan membacakan puisi untuk Zorro....